Cerita Sex Today

Cerita Sex Indonesia Terbaru , Cerita Sex ABG, Cerita Sex Perawan.


DewaBetting

DewaBetting
Agen Sbobet, Agen Maxbet, Agen Bola Terpercaya

Senin, 12 Maret 2018

Mengajar Les Privat, Kudapat Gadis Nakal dan Perawan

Cerita Seks Bergambar, Cerita Sex Dewasa, Cerita Ngentot Terbaru – Cerita Sedarah – Cerita Sex Abg - Cerita Perawan – Cerita mesum gadis binal serta perawan memiliki nafsu birahi tinggi yang menggoda ku dengan judul “ Mengajar Les Privat, Kudapat Gadis Nakal serta Perawan ” yg tidak kalah serunya serta ditanggung bisa tingkatkan libido sex, selamat nikmati.
Mengajar Les Privat, Kudapat Gadis Nakal dan Perawan.


CERITA SEX PERAWAN - Senin, Rabu serta Jumat yaitu jadwalku mengajar Sari serta Rina. Karna tempat tinggal Rina lebih dekat, jadi Sari yang datang ke tempat tinggal Rina. Ibu Rina yaitu orang Menado. Bapaknya orang Batak. Ke-2 orang tuanya ada di Surabaya. Dia di sini tinggal berdua saja dengan kakak wanita tertuanya yang kerja di Bank.

Mengontrak tempat tinggal mungil di daerah Ci***. Tengah ke-2 orangtua Sari yaitu asli orang Tasik. Keduanya cantik. Tinggi badannya nyaris sama. Rina orangnya putih, nakal, agak gemuk serta sedikit banyak omong. Tengah Sari hitam manis, relatif pendiam serta agak kurus.

Singkat narasi, sesudah sekian kali mengajar, saya tahu kalau memanglah si Rina kurang dapat konsentrasi. Konsentrasinya senantiasa pecah. Ada saja argumennya. Berlainan dengan Sari. Bahkan juga terkadang matanya menggoda nakal memandangku. Mungkin saja bila tak ada Sari, telah kuterkam dia.

Bajunya juga terkadang mengundang nafsuku. Celananya pendek sekali dengan kaos oblong tanpa ada BH. Berlainan sekali dengan Sari. Sari memanglah pendiam. Bila tidak di tanya, dia diam saja. Jadi bila tidak paham, dia malu ajukan pertanyaan. Namun dari pengalamanku, saya tahu bila Sari ini memiliki nafsu yang besar yang terpendam.

Satu waktu saya datang mengajar ke tempat tinggal Rina. Seperti umum bila jam belajar, pintu depannya tidak dikunci, jadi saya dapat segera masuk. Kok sepi..? Pada kemana..? Saya kebingungan, saksikan sana serta sini mencari orang dirumah itu. Saya segera ke dapur, tak ada siapapun juga. Saya memanglah umum serta telah diizinkan berkeliling-keliling tempat tinggalnya. Ingin masuk kamarnya, saya takut karna belum juga sempat. Lantas saya duduk di ruangan tamu, sembari buka-buka buku menyiapkan pelajaran.

Samar-samar saya mendengar nada mendesah-desah. Saya jadi tidak konsentrasi. Kucari arah nada itu. Nyatanya dari kamarnya Rina. Kutempelkan telingaku ke pintu. Sesudah percaya itu nada Rina yang nakal, kucoba memutar pegangan pintunya, nyatanya tidak dikunci. Kubuka sedikit serta kuintip. Nyatanya dia tengah masturbasi ditempat tidurnya.

Tangan kirinya meremas-remas susunya, tangan kanannya masuk kedalam roknya. Muka serta nada desahannya membuatku terangsang. Saya masuk bebrapa perlahan, dia kaget sekali melihatku. Tangannya segera menarik kaosnya menutupi susunya. Berwajah merah padam karna malu.

“Ehh.. ee.. Masss.. suss.., ssuuddaaahh laammaaa..? ” tanyanya terbata-bata.

Karna saya telah terangsang serta telah percaya sekali bila dia juga ingin, segera kulumat bibirnya. Awalnya dia kaget, namun tidak lama dia juga balik membalas ciumanku dengan ganasnya. Tanganku juga segera masuk kedalam kaosnya, mencari bukit kembarnya. Kuraba-raba, kuremas-remas ke-2 bukitnya bertukaran. Tidak sekenyal serta sekeras punyanya Sara atau Ketty.

“Aaahhh.., Masss.., mmm.., aaahhh..! ” desahnya.

Karna cukup mengganggu, kuangkat terlepas kaosnya. Terpampanglah ke-2 bukit kembarnya. Putih bersih dengan puttingnya merah muda yang menonjol indah. Kurebahkan dia, kuciumi ke-2 bukit kembarnya bertukaran.

“Ahhh.., Mass..! Teruuuss Masss..! Aahhh.., ooohhh… Hissaaappp.., Masss..! ”
Segera kukulum-kulum serta kuhisap-hisap puting susu kanannya, tengah yang kiri kuremas-remas.
“Aaahhh.., ooohhh.., Mass eenaaakkkk.., Mass yang keeraasss..! ”

Tangannya saat ini tidak ingin diam, mulai memegang batang kejantananku yang telah tegang dari luar celanaku. Tanganku juga mulai masuk kedalam roknya. Astaga. Dia tidak menggunakan celana dalam.

Kucari-cari kaitan roknya, resletingnya, lantas kuplorotkan roknya. Terpampanglah badan indah putih dihadapanku. Kucium perutnya, naik sekali lagi ke susunya demikian berkali-kali. Kepalanya bergolek ke kiri serta ke kanan.

“Auwww.., Maasss..! Aaaddduuuhhh.., ooohhh..! ” dia nikmati sensasi yang kuberikan.

Kurang lebih tiga menit, mendadak dia bangkit. Melepas kaosku, turunkan celana dan celana dalamku sekalian. Saya didorongnya. Batang kejantananku yang telah menegang segera berdiri dihadapannya.

“Kamu nakal yaa.., berdiri tanpa ada izin..! ” tuturnya pada kemaluanku.
Segera dikocok-kocok, diurut, dipijat oleh tangannya.
“Aaahhh… Riiinnn.. Dari barusan keekk..! ” kataku memprotes.

Lantas dia mulai mengulum senjataku. Lantas kakinya memutar mengangkangi wajahku. Saya tahu tujuannya. Saat ini, ada bibir kemaluan indah dihadapanku. Segera kulahap. Kujilati semua permukaan liang keperawanannya.

“Sudah basah sekali ini orang..! ” fikirku.
Tiap-tiap saya menyentuh kelentitnya, dia berhenti menyedot batang keperkasaanku.

Lantas dia melepas penisku, berdiri, lantas jongkok pas diatas alat vitalku.
“Bukan main..! Masih tetap kelas 2 SMP kok telah begini hebat permainannya..! ” batinku, “Umurnya paling-paling sebaya Sara, 13 tahunan. ”
Dia pegang senjataku, dipaskan ke lubangnya, lantas dengan begitu perlahan-lahan dia berjongkok.
“Aaahhh..! ” desisku waktu kepala kemaluanku ditelan liang kenikmatannya.

Masih tetap sempit. Begitu perlahan-lahan dia turunkan pantatnya. Penetrasi ini benar-benar indah. Matanya terpejam, tangannya menghimpit dadaku. Dia nikmati sekali tiap-tiap gesekan untuk gesekan.

“Aaahhh.., ssshhhssshhh..! ” desahnya.

Sesudah semua batang kemaluanku masuk, merasa olehku kepala kejantananku menyentuh rahimnya. Didiamkan sebentar sembari dikedut-kedutkan urat kemaluannya.

“Aaahhh.., Riiinnn… eeennnaaakkk sseeekkkaallliii..! ”
Lantas perlahan dia mulai menaik-turunkan pantatnya. Susunya bergoyang-goyang indah. Kuremas-remas keduanya.
“Aa.., ah.., ahh.., ooohhh.., sshshshsh.., shhh..! ”

Lama-lama makin cepat. Selang beberapa saat dia menjepitkan kakinya ke pantatku sembari tangannya meremas dadaku serta menghimpit pantatnya supaya masuk lebih dalam.

“Massss.., aakkkuuu.. uuuddddaaahhh… aaahhh..! ” desahnya tidak menentu.
“Syurrrr… ssyyuurrr…” cairan hangat menyelimuti kepala batang kejantananku.

Dia rebah ke atas badanku. Saya yang belum juga hingga, segera membalikkan tubuhnya. Segera kegenjot dia secepat-cepatnya. Karna liang senggamanya telah basah, jadi daya cengkramnya alami penurunan. Hingga saya mesti lama memompanya.

“Maasss.., uuuddaaahhh..! Aaakkkuuu eenggaaakkk taahhhaannn..! Adduuuhhh.. Mmass..! Geeellii..! ” teriaknya. Dia berkelojotan, susunya bergoyang-goyang. Kuremas-remas keduanya dengan ke-2 tanganku. Saya tidak perduli, selalu saja kugenjot.

Hingga pada akhirnya, “Aaahhh.., Rriiinnn.. Maasss… ssaammmpeee… aaahhh..! ” desahku yang dibarengi dengan, “Croottt.., croottt.., croottt.., ” empat grup cairan spermaku memuncrat di liang senggamanya.

Saya segera ambruk ke dadanya. Sesudah reda nafasku, kupeluk dia sembari berguling ke sampingnya. Kucium keningnya. Kudekap dia lebih rapat. Batang keperkasaanku masih tetap tertancap di liang kenikmatannya.

Mengajar Les Privat, Kudapat Gadis Nakal dan Perawan


“Terima kasih ya Riinnn..! ”
“Sama-sama Maasss..! ”
“Riinnn.., maaf ya..? Mas ingin bertanya.., Tapi Rina janganlah geram yaaa..? ”
“Rina tau apa yang Mas ingin bertanya. Memanglah Rina telah seringkali beginian sama pacar Rina. Tapi telah 2 bln. ini putus, jadi Rina seringkali masturbasi seperti yang Mas simak barusan. ” jawabnya mudah sekali.
“Oooo.. ”

“Mas yaitu orang ke-2 yang meniduri Rina sesudah pacar Rina. ”
“Mass.., Rina khan belajarnya sama Sara. Sara banyak narasi ke Rina mengenai jalinan Sara sama Mas… Kata Sara, Mas hebat.., Rina jadi kepengiiiinn banget jalinan sama Mas..! ”
“Kapan Rina pertama kalinya jalinan dengan pacar Rina..? ”
“Udah lama Mas.., kurang lebih saat Rina kelas satu dahulu. Rina kecolongan Mass.., tapi sesudah tau nikmatnya, Rina jadi ketagihan. ”
“Ooo. ”
“Si Sari kok tidak dateng..? ”

“Tadi siang Saya katakan ke Dia, hari ini tidak belajar, karna Saya pengiinn banget ngentot sama Maass.. Habis.. gatel sssiiiihh..! ” tuturnya sembari mengedut-ngedutkan liang kewanitaannya.

Penisku terasanya dipijat. Kucabut, lantas keluarlah cairan kental putih dari liang senggamanya. Lubang kenikmatannya kubersihkan dengan kaosnya, lantas batang kejantananku juga kulap.

“Sekarang ingin belajar..? ” tanyaku.
“Kayaknya tidak deh Mas. Kasian khan Sari ketinggal. ”
“Ok deh. Mas sebenarnya ada juga butuh dirumah. Ingin bantuin ayah betulin mobil orang. Besok ingin di ambil. ”
“Iya deh Mass.. Terima kasih ya..! ”

Lantas kucium pipinya. Saya bangkit ke kamar mandi dengan telanjang bulat sembari menenteng bajuku. Kamar mandinya berada di ruangan tengah. ”Massss…” panggilnya waktu saya juga akan keluar kamarnya. ”Apa..? ””Besok sekali lagi. Datangnya jam tigaan saja Mass. Si Sari datangnya paling jam 4 kurang, jadi kita dapat puas-puasin dahulu..! ”

“Iyaaa deeehhh.., tenang saja. ” kataku sembari keluar kamar.

Demikianlah tiap-tiap sebelumnya mengajar, saya mengerjakan Rina yang nakal sepuasku. Demikian halnya dengan Rina. Dia nafsunya begitu besar. Namun kemaluannya tidak demikian menjepit. Sesungguhnya itu tidaklah problem buatku. Mulai sejak saya tidak dapat terkait dengan Sara sekali lagi, saya cukup senang terkait dengan Ketty serta Rina.

Satu waktu, saat lihat perubahan atas sikap Sari kepadaku. Dia seringkali mengambil pandang ke arahku. Saya tidak paham penyebabnya, namun sesudah usai belajar, waktu kujalan dengan Sari, Sari menceritakan kepadaku.

“Mas.. Sari tahu lhooo.. Jalinan Rina sama Mas…”
“Lho.., Sari tahu dari tempat mana..? Apa Rina narasi..? ” tanyaku kaget.

“Enggak. Saat Sari datang lebih awal, kurang lebih jam tiga seperempat, Sari masuk tempat tinggal Rina, Sari denger Rina teriak-teriak di kamar, kupikir Rina khan telah putus sama pacarnya..? Lantas Rina sama siapa..? Selalu Sari intip. Eeehhh tidak taunya sama Mas Pri..! ”

“Terus..? ”
“Terus.., ya Sari keluar saja, takut ketahuan. Selalu Sari nongkrong di tukang bakso depan. Kurang lebih jam empat kurang, Sari masuk sekali lagi. ”
“Terus..? ”
“Yaa.., telah gitu saja..! ”

Hening sebentar saat itu, kami repot dengan fikiran kami semasing.
“Sari sempat tidak yaa..? ” batinku.
“Tanya, tidak, bertanya, tidak. Jika kutanya, Dia geram tidak ya.. Ah bodo, yang perlu bertanya dahulu aja…”
“Eng.., Sari sempat tidak..? ”
“Pernah apa Mas..? ”
“Ya.., seperti Sara atau Rina..? ”

“Belummm Mmassss..! ” jawabnya malu-malu serta berwajah merah padam.
Nyatanya dia tidak geram. Benar sangkaanku, nafsunya besar juga.
“Sari ingin..? ”
Dia diam saja sembari menunduk. Tentu ingin lah.
“Sari telah miliki pacar..? ”
“Beluumm Mass.., setelah dilarang sama Ayah Ibu. ”
“Yaa.., janganlah sampai ketahuan doonng..! ”

Lantas kami berpisah. Karna Sari mesti naik bis ke Blok A. Sedang saya naik bis arah Pondok Labu. Di bis saya berfikir, bagaimana langkahnya memperoleh Sari.

“Aku mesti memakai Rina..! ” fikirku.

Besoknya sebelumnya belajar dengan, waktu saya bercumbu dengan Rina yang nakal, kubilang ke Rina bila Sari sudah mengetahui jalinan kita. Saya minta bantuannya untuk memancing nafsu si Sari. Semula saya fikir Rina juga akan menampik, nyatanya jalan fikiran Rina sangatlah moderat. Dia menyanggupinya. Karna Sari sudah mengetahui, untuk apa ditutup-tutupi tuturnya.

Saat tengah belajar dengan, saya cobalah pancing nafsu Sari lewat cara kududuk di samping Rina yang nakal. Saya rangkul Rina, kucium pipinya, bibirnya serta kuraba dadanya. Rina waktu itu menggunakan kaos tanpa ada BH. Rina membalasnya. Lantas kudorong dia supaya tiduran di karpet.

Kami sama-sama bergumul. Lihat hal tersebut, Sari kaget juga. Dia menutupi berwajah. Karna sampai kini kami terkait diam-diam. Tidak sempat dengan terang-terangan. Kali itu kami melakukan perbuatan seakan-akan tak ada orang yang lain terkecuali kami berdua, untuk memancing nafsu Sari.

Perbuatan kami makin memanas. Karna Rina yang nakal telah telanjang dada. Lantas Rina turunkan celana pendeknya. Dia segera bugil karna tidak menggunakan celana dalam. Saya juga tidak tinggal diam, kulepas semuanya bajuku. Kugeluti dia. Lantas kami ambil tempat 69. Rina diatas. Kami sama-sama mengisap.

“Aaahhh.., Mmasss.., sshshshs… Masss.. enaaakkk Mass.., ooohh..! ” desah Rina dibesar-besarkan.
“Ohhh.. Riiinnn… hisap yang kuaattt Riinnnn..! ” desahku juga.
Kulihat Sari telah tidak menutupi berwajah sekali lagi.

Kurang lebih lima menit sama-sama mengisap, Rina berdiri memegang batang kemaluanku serta mengarahkan ke liang senggamanya yang telah tidak perawan sekali lagi. Turunkan pantatnya dengan perlahan-lahan.

“Bless..! ” segera masuk semuanya.
“Aaahhhh… Maasss.., aaahhh.., ssshhh.., aaahhh..! ” desahnya.
Lantas dengan perlahan-lahan dinaik-turunkan pantatnya. Pertama-tama perlahan-lahan. Semakin lama makin cepat.
“Aahh.. ooohhh.., sh.. sh.. ooohhh… Iiihhh..! ” erangnya.

Kulirik Sari, dia memandangi ekspresi Rina yang nakal. Kelihatannya dia telah terangsang berat. Karna berwajah merah padam, nafasnya memburu. Tangannya memegang dadanya. Pergerakan Rina yang nakal makin tidak teratasi. Pantatnya berputar sembari naik turun. Kurang lebih 10 menit, saya rasakan liang kewanitaan Rina telah berkedut-kedut. Dia ingin hingga klimakasnya. Serta pada akhirnya pantatnya menghujam batang keperkasaanku dalam sekali.

“Aaahhh.. Masss… Akuuu… sammmpppeee.. Maasss..! ”
“Syuuurr… syurrr.. ” kehangatan menyelimuti kepala senjataku.

Dia segera terguling ke sebelahku. Senjataku tercabut dari liang kenikmatannya serta berhamburanlah cairan dari liang senggamanya ke karpet. Saya memanglah tidak demikian menghayati permainan ini, karna fikiranku senantiasa ke Sari. Jadi pertahananku masih tetap kuat.

Saya bangkit dengan telanjang bulat. Kuhampiri Sari. Sari kaget karna saya menghampirinya masih tetap dengan bertelanjang bulat. Segera kupeluk dia. Kuciumi semua berwajah. Tak ada penolakan darinya, namun juga tak ada reaksi apa-apa. Betul-betul masih tetap polos.

Lama-lama tangannya mulai memelukku. Dia mulai menikmatinya. Membalas ciumanku, walaupun lidahnya belum juga bereaksi. Kuusahan semesra mungkin saja saya mencumbunya. Serta pada akhirnya mulutnya buka sedikit bersamaan dengan desahannya.

“Aaahhh.. Maasss..! ” nafasnya mulai memburu.

Kumasukkan lidahku ke mulutnya. Kubelit lidahnya perlahan. Dia juga membalasnya. Tanganku mulai meraba dadanya. Merasa putingnya telah mengeras di bukit kembarnya yang kecil. Kuremas-remas keduanya bertukaran.

“Maaasss.. oooohhhh.. Mmmasss.. shshhshshs…” desahnya.

Kulepas ciumanku. Kupandangi berwajah sembari tanganku mengangkat kaosnya. Dia diam saja. Terlepas telah kaosnya, saat ini tinggal BH mininya. Kulepaskan juga pengaitnya. Dia masih tetap diam saja. Pada akhirnya terpampanglah bukit kembarnya yang kecil lucu. Seperti umum, untuk menaklukan seseorang perawan, tidak dapat tergesa-gesa. Mesti sabar serta dengan kalimat yang pas.

“Bukan maaiinnn. Susumu sangat bagus Sar..! ” kataku sembari memandangi bukit kembarnya.

Warnanya tidak seputih Rina yang nakal, agak coklat seperti warna kulitnya. Saya elus perlahan sekali. Kusentuh-sentuh putingnya yang telah menonjol. Tiap-tiap kusentuh putingnya, dia menggelinjang.

Kutidurkan dia ke karpet. Lantas kuciumi dada kanannya, yang kiri kuremas-remas.
“Aaahhh.., ssshhh.., Maaasss.., aaaddduuuhhh… aaa..! ”

Bertukaran kiri kanan. Terkadang ciumanku turun ke arah perutnya, lantas naik sekali lagi. Tangan kananku telah mengelus-ngelus pahanya. Dia masih tetap menggunakan celana panjang katun. Terkadang kuelus-elus selangkangannya. Dia mulai buka pahanya. Disamping itu Rina yang nakal telah pergi ke kamar mandi. Karna kudengar nada guyuran air.

Sesudah saya percaya dia telah di puncak nafsunya, kupandangi berwajah sekali lagi. Berwajah telah memerah karna nafsunya. Ini waktunya. Lantas tanganku mulai buka pengait celananya, retsletingnya, serta turunkan celana panjangnya sekalian dengan celana dalamnya. Tak ada penolakan. Bahkan juga dia membantunya dengan mengangkat pantatnya. Dia memandangiku sayu.

Bukit kemaluannya kecil tidak berbulu. Nyaris sama juga dengan milik Titin dahulu. Mungkin saja karna keduanya sama orang Sunda. Kupandangi bibir kemaluannya. Dia menutupinya dengan ke-2 tangannya. Kutarik tangannya perlahan-lahan sembari kudekatkan wajahku. Awalnya tangannya tutup agak keras, namun lama-lama mulai melemah. Kucium bibir kewanitaannya. Aaahhh.., fresh sekali harumnya. Kuulangi sekian kali. Tiap-tiap kucium, pantatnya dinaikkan ke atas sembari mendesah.

“Aaahhh… Masss.., mmm.. sshshshs…”
Batang kejantananku yang barusan telah agak lemas, mulai mengeras sekali lagi.

Lantas kubuka bibir kewanitaannya dengan jariku. Telah basah. Kutelusuri semua liangnya dengan jariku, lantas lidahku. Dia makin menggelinjang. Lidahku menari-nari mencari kedele-nya. Sesudah bisa, kujilat-jilat secara cepat sembari agak kutekan-tekan. Reaksinya, gelinjangnya semakin hebat, pantatnya bergoyang ke kiri serta ke kanan.

“Adduuuhhh… Maasss… aaahhh.. ssshhh.. aaahhh..! ”

Kuangkat ke-2 kakinya, kutumpangkan ke pundakku, hingga liang kewanitaannya makin buka. Kupandangi belahan kewanitaannya. Begitu indah liangnya. Hangat serta berkedut-kedut.

“Saarr.., memekmu bagus benar.. Wangi lagi…”

Kembali kuhisap-hisap. Dia makin keras mendesah. Kurang lebih 5 menit lalu, pahanya menjepit leherku keras sekali. Lubang keperawanannya berdenyut-denyut cepat sekali.

Serta, “Syurrr… syurrr…” menyemburlah cairan kenikmatannya.

Kuhirup semua. Manis, asin, gurih jadi satu. Aaasshhh… segarnya. Kakinya telah melemas. Kuturunkan kakinya, kukangkangkan pahanya. Kuarahkan batang keperkasaanku ke liangnya sembari kupandangi berwajah.

“Boleh Sarr..? ” tanyaku memohon persetujuannya.
Matanya memandangku sayu, tidak bertenaga. Dia cuma mengangguk.
“Pelan-pelan yaa Mass..! ”

Kuoles-oleskan kepala kemaluanku dengan cairan pelumas yang keluar dari liang senggamanya. Lantas kugesek-gesekkan kepala kejantananku ke bibir kenikmatannya. Kuputar-putar sembari menghimpit perlahan-lahan.

“Aaahhh.. Maasss… Ooohhh..! ” dia mendesah.

Lantas kutekan dengan sangat perlahan-lahan. Kepalanya mulai masuk. Kuperhatikan kemaluannya menggembung karna menelan kepala keperkasaanku. Ketekan sedikit sekali lagi. Kulihat dia menggigit bibir bawahnya. Kuangkat pantatku sedikit dengan sangat perlahan-lahan. Lantas kudorong sekali lagi. Demikian berkali-kali hingga dia tidak meringis.

“Ayooo… Masss.. aaahhh.. ooohhh.., ssshhhshshhh..! ”

Lantas kudorong sekali lagi. Masuk sepertiganya. Dia meringis sekali lagi. Kutahan sebentar, kutarik perlahan-lahan, lantas kudorong sekali lagi. Merasa kepala batang kejantananku tentang selaput tidak tebal. Nah inilah selaputnya.

“Kok tidak dalam..? Belum juga masuk setengahnya telah terkena..! ” batinku dalam hati.
“Sar.., tahan sedikit yaa..! ”
Lantas kucium bibirnya. Kami berciuman, sama-sama mengulum. Serta dengan mendadak kutekan batang keperkasaanku dengan keras.
“Pret..! ” kemaluanku menabrak suatu hal yang segera sobek.

Dia ingin menjerit, namun karna mulutnya kusumpal, jadi tak ada nada yang keluar. Kudiamkan sebentar kejantananku supaya liang keperawanannya ingin terima benda tumpul asing. Lantas kutarik ulur perlahan. Sesudah tampak dia tidak terasa kesakitan, kutekan lebih dalam sekali lagi.

Kutahan sekali lagi. Kuangkat perlahan-lahan, kutekan sedikit sekali lagi. Demikian berkali-kali hingga senjataku masuk semua. Dia tetaplah tidak dapat bicara karna mulutnya kulumat. Kutahan kemaluanku didalam, kulepaskan ciumanku. Liang senggamanya menjepit semua batangku di semuanya bagian. Rasa-rasanya bukanlah main enaknya.

“Gimana Sar..? ”
“Sakiittt Masss… Periiihhh… Mmmm..! ”
“Tahan saja dahulu, sebentar sekali lagi ilang kok…” sembari kucabut begitu perlahan-lahan.

Kutekan sekali lagi hingga menyentuk ujung rahimnya. Demikian berkali-kali. Saat kutarik, kulihat kemaluan Sari agak tertarik hingga terlihat agak menggembung, serta bila kutekan, agak mblesek menggelembung. Sesudah 5 atau 6 kali saya turun naik, merasa agak mulai licin. Serta Sari juga tidak tampak kesakitan sekali lagi.

“Sar.., memekmu sempit banget. Ooohhh enak sekali Sar..! ” bisikku sembari percepat pergerakanku.

Dia kelihatannya telah terasa nikmat.
“Aaahhh… eennnaaakkk… Masss… aaahhh.. shshshshsh…” desahnya. Kupercepat selalu.

“Ah.. ah.. ahh.. ooo.. shshsh.. aaaddduuuhhh… ooohhh..! ” pantatnya mulai bergerak menyeimbangi pergerakanku. Kurang lebih 5 menit, dia mulai tidak teratasi. Pantatnya bergerak liar. Mendadak dia menekuk, ke-2 kakinya menjepit pantatku sembari mengangkat pantatnya. Bibir kemaluannya berkedut-kedut.

Serta, “Sysurrr.. syuurrr.. ” 2 x kepala kejantananku disembur oleh cairan hangatnya.
Karna saya dari barusan telah ingin keluar serta kutahan-tahan, jadi kupercepat pergerakanku.
“Masss… Uuudddaaahhh.. Mmasss.. Aaaddduuhhh.. Gellii.. Maass..! ” teriaknya.

Saya tidak perduli. Keringatnya telah seperti orang mandi. Kupercepat selalu pergerakanku, pada akhirnya, “Crooot… cruuuttt.. ” 3x saya menembakan cairanku di liang kenikmatannya. Lantas saya ambruk di sampingnya.

Mendadak, “Plok.. plok.. plok.. ” terdengar nada tepukan.
Rupanya Rina yang nakal telah dari barusan memerhatikan kami berdua.
“Mas hebat… Sari.. selamat yaa..! ” tuturnya sembari mencium pipi Sari.
Sari cuma dapat tersenyum di sela-sela nafasnya yang masih tetap ngos-ngosan.
“Enak Sar..? ” tanyanya sekali lagi.
Sari cuma dapat mengangguk lemah. Lantas saya memeluk Sari.
“Sari. Terima kasih yaa..! ” kataku sembari mengecup pipinya.
“Sari juga terima kasih Mas.. Enaakkk banget ya Mass..! ”

Saya bangun ambil baju-bajuku yang berantakan. Kulihat di selangkangan Sari ada bercak-bercak lendir kemerahan.

“Aaaahhh… Saya dapet perawan sekali lagi..! ” batinku.

Lantas saya ke kamar mandi. Usai kumandi, ubahan Sari yang mandi. Sesudah semuanya usai, kami cuma mengobrol saja sembari minum teh hangat yang dibuatkan Rina yang nakal. Bercerita pengalaman yang dirasa oleh masing. Saya lemas karna dalam 2 jam hingga 3 kali main.

Mulai sejak waktu itu, Sari senantiasa datang jam 3 sore. Serta sebelumnya belajar, kami senantiasa memulainya dengan pelajaran biologis. Serta Rina yang nakal kelihatannya ketahui serta mengerti bila punyanya Sari lebih oke, jadi dia mengalah senantiasa bisa giliran ke-2. Serta mereka juga sama-sama sharing. Sama-sama coba serta mengajari. Saya yang jadikan alat uji coba mereka menurut saja. Setelah enak sich.

Sesudah pembagian raport, nyatanya yang nilainya naik banyak cuma Sari. Namun keduanya naik kelas dengan nilai diatas rata-rata. Demikianlah pengalamanku dengan gadis-gadis SMP.

1 komentar:

  1. Lucky Club - Casino Site - Live Score, Tips, Statistics
    Lucky Club is a Live Scores service that works in the form of free bet offers. To ensure the accuracy of the outcome of the game, our algorithm luckyclub has always ensured

    BalasHapus